INILAHCOM, Jakarta - Menjadi tua adalah pasti dan tidak dapat ditahan. Namun tak setiap kota dan negara memiliki kebijakan pembangunan yang memperhatikan kebutuhan orang lanjut usia meski jumlahnya terus bertambah.
Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data jumlah lansia di DKI Jakarta tahun 2016 berusia 60 – 64 tahun sebanyak 284.080 jiwa. Sementara yang berusia 65 tahun ke atas sebanyak 375.893 jiwa. Jumlah penduduk lansia sebenarnya berpotensi memberikan banyak keuntungan jika mereka tetap sehat, tangguh dan produktif.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bahkan pernah mengungkapkan harapannya agar lansia di Jakarta bisa mencapai usia 90 tahun dengan kualitas hidup yang baik sehingga masih bisa bercerita banyak dan menanamkan pesan-pesan moral pada anak cucunya.
Menurut relawan pasangan Ahok-Djarot, Nong Darol Mahmada, Ahok Djarot adalah pemerintahan yang sadar betul, pembangunan kualitas warga lansia sama pentingnya dengan penyiapan penduduk usia produktif. Bahkan dibawah kepemimpinan Ahok-Djarot, Jakarta terus berbenah menjadi kota ramah lansia.
“Iya jadi bukan cuma yang muda saja yang diperhatikan, lansia pun juga diberikan ruang agar kualitas hidupnya membaik”, kata Nong dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (22/3/2017).
Salah satu program terbaru andalan Ahok-Djarot adalah Kartu Jakarta Lansia ( KJL ). Melalui kartu ini, setiap warga lansia yang membutuhkan yakni berusia diatas 60 tahun dan tergolong tak mampu akan mendapat bantuan pemerintah sebesar Rp.600.000 per-bulan. Dana akan langsung ditransfer setiap bulan ke rekening yang bersangkutan melalui Bank DKI. Uang ini nantinya nantinya dapat digunakan untuk membeli bahan makanan bergizi untuk meningkatkan kualitas hidup para lansia. Pola ini mirip dengan distribusi bantuan Kartu Jakarta Pintar.
“Nanti akan ada pendataan dulu atau keluarganya bisa secara aktif mendaftarkan ( anggota keluarga lansianya ) ke RT/RW setempat. Kemudian akan diarahkan untuk membuka rekening di Bank DKI. Mungkin ke depan akan nambah besarannya tapi yang sekarang Rp.600.000/ bulan”, jelas Nong Darol.
Pendataan warga lansia Jakarta yang tak mampu ini nantinya akan menjadi tanggung jawab Dinas Sosial DKI Jakarta. Pendataan akan segera dilakukan setelah pasangan Ahok-Djarot akfif kembali sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, usai masa cuti kampanye berakhir pada April 2017 mendatang.
Lebih jauh Nong Darol optimis tidak akan terjadi salah sasaran dan penyalahgunaan dana KJL. Sebab, dana tidak dapat ditarik tunai dan penggunaannya dapat terdeteksi dari setiap transaksi.
“Nanti keliatan dari penggunaan anggarannya. Kenapa itu diberikan non tunai dalam bentuk kartu itu juga untuk mengawasi penggunaan dananya. Dari situ khan keliatan. Misalnya ibu ‘A’ abis belanja dari mana beli apa, terus kemana. Kalo misalnya digunakan oleh cucunya atau anaknya, itu akan keliatan dari setiap transaksi.”
“Jadi gak sembarangan sih, nanti pakai sistem gesek, kayak atm atau kartu debit, gak bisa diambil tunai. Jadi hanya untuk transaksi dan itu persis seperti KJP”, tegasnya.
Selain KJL, kini pemprov DKI juga terus mengebut pembangunan Villa khusus lansia di Ciangir, Tangerang. Villa itu rencananya akan dibangung di atas tanah seluas 92 hektar. Menurut Nong, nantinya villa itu dapat dibooking oleh keluarga secara gratis untuk anggota lansianya yang ingin sekedar berlibur.
“Biasanya khan tradisi kekeluargaan nenek atau kakek biasanya tinggal bareng anak-anak atau cucunya, nah misalnya ingin istirahat atau cuma ingin refreshing beberapa hari atau minggu, bisa pakai villa itu. Jadi ini untuk perbaikan kualitas hidup supaya gak bosan, supaya dapat suasana baru.”
Selain untuk tempat berlibur, villa tersebut juga diperuntukkan bagi warga lansia yang tak memiliki keluarga. Semua fasilitas untuk lansia yang hanya menetap sementara atau permanen akan diberikan secara gratis oleh pemprov DKI. [rok]
Ditangani Ahok-Djarot, Jakarta Makin Ramah Lansia
Read More